Rabu, 05 Februari 2014

LAMBANG NEGARA INDONESIA




Pemangku Republik Indonesia
Sejak 11 Februari 1950
Perisai Di bagian tengah Garuda, melambangkan Pancasila, ideologi nasional Indonesia
Penopang Garuda (penopang tunggal)
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Elemen Jumlah bulu Garuda melambangkan tanggal 17 Agustus 1945, hari kemerdekaan Republik Indonesia
Penggunaan - Lambang Negara (contoh pada Paspor Indonesia dan dokumen resmi kenegaraan)
- sebagai lambang kenegaraan dan ideologi nasional
- penggunaan resmi kenegaraan lainnya

 Lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.
Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950.
Lambang negara Garuda Pancasila diatur penggunaannya dalam Peraturan Pemerintah No. 43/1958.

SEJARAH
Garuda, kendaraan (wahana) Wishnu tampil di berbagai candi kuno di Indonesia, seperti Prambanan, Mendut, Sojiwan, Penataran, Belahan, Sukuh dan Cetho dalam bentuk relief atau arca. Di Prambanan terdapat sebuah candi di muka candi Wishnu yang dipersembahkan untuk Garuda, akan tetapi tidak ditemukan arca Garuda di dalamnya. Di candi Siwa Prambanan terdapat relief episode Ramayana yang menggambarkan keponakan Garuda yang juga bangsa dewa burung, Jatayu, mencoba menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana. Arca anumerta Airlangga yang digambarkan sebagai Wishnu tengah mengendarai Garuda dari Candi Belahan mungkin adalah arca Garuda Jawa Kuna paling terkenal, kini arca ini disimpan di Museum Trowulan.
Garuda muncul dalam berbagai kisah, terutama di Jawa dan Bali. Dalam banyak kisah Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, Garuda dimuliakan sebagai "Tuan segala makhluk yang dapat terbang" dan "Raja agung para burung". Di Bali ia biasanya digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kepala, paruh, sayap, dan cakar elang, tetapi memiliki tubuh dan lengan manusia. Biasanya digambarkan dalam ukiran yang halus dan rumit dengan warna cerah keemasan, digambarkan dalam posisi sebagai kendaraan Wishnu, atau dalam adegan pertempuran melawan Naga.
Posisi mulia Garuda dalam tradisi Indonesia sejak zaman kuno telah menjadikan Garuda sebagai simbol nasional Indonesia, sebagai perwujudan ideologi Pancasila. Garuda juga dipilih sebagai nama maskapai penerbangan nasional Indonesia Garuda Indonesia. Selain Indonesia, Thailand juga menggunakan Garuda sebagai lambang negara.
Setelah Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949, disusul pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, dirasakan perlunya Indonesia (saat itu Republik Indonesia Serikat) memiliki lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah
 Lambang Garuda juga digunakan di jersey Tim Nasional Sepak Bola Indonesia 

       Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali, karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap terlalu bersifat mitologis.

SULTAN HAMID II
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "gundul" dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut; setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan "jambul" pada kepala Garuda Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat. Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

GARUDA
1.      Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
  1. Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.
  2. Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
  3. Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, antara lain:
               a.       17 helai bulu pada masing-masing sayap
    1. 8   helai bulu pada ekor
    2. 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor
    3. 45 helai bulu di leher
PERISAI
A.      Perisai adalah tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan.
  1. Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat.
  2. Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia "merah-putih". Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam.
  3. Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara Pancasila. Pengaturan lambang pada ruang perisai adalah sebagai berikut
1.         Sila Pertama
Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam


2.         Sila Kedua
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah


3.         Sila Ketiga
Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih


 4.         Sila Keempat
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah  dan

5.         Sila Kelima
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.



PITA BERTULISKAN SEMBOYAN BHINNEKA TUNGGAL IKA
1.      Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam.
  1. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata "tunggal" berarti satu, kata "ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.


Patung besar Garuda Pancasila, terpasang di Ruang Kemerdekaan Monas, Jakarta.

 

BEBERAPA ATURAN

  Penggunaan lambang negara diatur dalam UUD 1945 pasal 36A dan UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. (LN 2009 Nmr 109, TLN 5035). Sebelumnya lambang negara diatur dalam Konstitusi RIS, UUD Sementara 1950, dan Peraturan Pemerintah No. 43/1958 
Lambang Negara menggunakan warna pokok yang terdiri atas:
  1. warna merah di bagian kanan atas dan kiri bawah perisai;
  2. warna putih di bagian kiri atas dan kanan bawah perisai;
  3. warna kuning emas untuk seluruh burung Garuda;
  4. warna hitam di tengah-tengah perisai yang berbentuk jantung; dan
  5. warna alam untuk seluruh gambar lambang.
 Lambang Negara wajib digunakan di:
  1. dalam gedung, kantor, atau ruang kelas satuan pendidikan;
  2. luar gedung atau kantor;
  3. lembaran negara, tambahan lembaran negara, berita negara, dan tambahan berita negara;
  4. paspor, ijazah, dan dokumen resmi yang diterbitkan pemerintah;
  5. uang logam dan uang kertas; atau
  6. meterai.
Dalam hal Lambang Negara ditempatkan bersama-sama dengan Bendera Negara, gambar Presiden dan/atau gambar Wakil Presiden, penggunaannya diatur dengan ketentuan:
  1. Lambang Negara ditempatkan di sebelah kiri dan lebih tinggi daripada Bendera Negara; dan
  2. gambar resmi Presiden dan/atau gambar Wakil Presiden ditempatkan sejajar dan dipasang lebih rendah daripada Lambang Negara.
Setiap orang dilarang:
  1. mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara;
  2. menggunakan Lambang Negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk, warna, dan perbandingan ukuran;
  3. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara; dan
  4. menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam Undang-Undang ini.

 
 Ukuran/dimensi resmi lambang negara.

Sumber

  • UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. (LN 2009 Nmr 109, TLN 5035)
  • Artikel Garuda Pancasila (materi yang dipindahkan)
  • Artikel Lambang Indonesia (awal)
  •  http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Pancasila 

Rabu, 22 Januari 2014

PROFIL KELURAHAN KOYA TIMUR



Bab I
Gambaran Umum

Kelurahan Koya Timur merupakan salah satu dari 2 Kelurahan dan 6 Kampung di wilayah Distrik Muara Tami Kota Jayapura dengan kondisi masyarakat yang heterogen yang berarti hampir seluruh suku bangsa yang berada di wilayah NKRI yang terwakili dari Pulau-Pulau besarnya, dengan keanekaragaman   budaya bangsa, suku, agama dan  adat istiadatnya berdomisili di Kelurahan Koya Timur, untuk itu diperlukan pola-pola tertentu dalam rangka pembinaan kepada masyarakat secara berkesinambungan agar tercipta peningkatan kualitas hidup dalam kehidupan bermasyarakat  berbangsa dan bernegara.

A.       Letak Geografi
Kelurahan Koya Timur secara geografis  berada diwilayah Kota Jayapura Bagian Timur , yang berbatasan  langsung dengan Negara Tetangga (PNG) setalah Kampung Mosso. Yang mempunyai luas wilayah  seluas  9.249.107 Ha , dan jumlah  penduduk  berjumlah 1137 KK dan 3695 dengan rincian laki-laki sebanyak 1897 Jiwa dan Perempuan sebanyak 1798 Jiwa (per 1 desember 2013)  dengan batas- batas wilayah sebagai berikut :
Batas-batas wilayah :
Sebelah Utara         
:
Kampung Skouw  (Mabo, Yambe, Sae)
Sebelah Selatan      
:
Kabupaten  Keerom
Sebelah Barat         
:
Kelurahan Koya Barat &  Kampung  Koya Tengah
Sebelah Timur        
:
Kampung  Mosso
Adapun Jumlah RT  dan RW sebagai Berikut:

Jumlah RW           : 12 RW
Jumlah RT            : 27 RT

B.       Iklim           
Wilayah Kelurahan Koya Timur adalah bagian dari wilayah Distrik Muara Tami yang beriklim tropis, dengan  suhu rata-rata 22º C – 38º C dengan ketingian  tanah  rata-rata 20 mdpl (diatas permukaan air laut) dengan curah hujan 2.764 mm/th dan kelembaban udara
 antara 79 % - 81 %.

Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada peta berikut :
  Sumber : Bagian  Administrasi  & Pemerintahan Umum  2011

 C.       Sejarah Singkat
Kelurahan Koya Timur  mulai  terbentuk Terhitung Mulai tanggal 3 Februari 1984 sampai dengan 11 Agustus 1984 yang pada awalnya masih merupakan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Koya Timur. Dengan mendatangkan para Transmigran asal Pulau Jawa masuk dan pertama  kali di Koya Timur, dengan tahapan sebagai berikut :
·         Transmigrasi umum asal  Jawa Barat sebanyak 119 KK/ 508 jiwa
·         Transmigran asal Jawa Tengah sebanyak 207 KK/ 951 jiwa
·         Transmigrasi asal Jawa Timur sebanyak 140 KK/ 563 jiwa
·         Transmigrasi APPDT sebanyak 134 KK/ 746 jiwa
 Kondisi ini pun terus berkembang di bawah pembinaan langsung oleh  Departeman Transmigrasi.
Terhitung Mulai tanggal , 02 Juni 1990 oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jayapura  (Bapak Barnabas Youwe)  UPT Koya Timur diresmikan menjadi Desa Definitif dan pemerintahannya dipimpin oleh seseorang Kepala Desa yang dipilih oleh Masyarakat . Dengan demikian Koya Timur dapat berdiri menjalankan pemerintahannya sendiri dibawah naungan pemerintah Kecamatan Abepura dan Kabupaten TK II Jayapura , Provinsi Irian Jaya pada saat itu. Adapun nama-nama yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa adalah :
·         Sumarno, BCHK                      ( Periode Tahun 1990)
·         Cecep Kadarisman                   ( Periode Tahun 1991)
·         Soegiarti                                   ( Periode Tahun 1992 – 1996)
·         Soegiarti                                   ( Periode Tahun 1996- 12 November 2002)

Tepatnya mulai tanggal 12 November 2002 status pemerintahan Desa/Kampung Koya Timur   beralih status pemerintahan menjadi  pemerintah Kelurahan  dengan nama Pemerintah  Kelurahan Koya Timur, adapun   nama –nama yang pernah menjabat  sebagai Lurah/Kepala Kelurahan  adalah : 
     1. Drs Zainal Arifin ( Periode tahun 12 November2002 - Tahun 2005), 
     2. Soegiarti. S.IP (Periode Tahun 2006- sampai 31 Januari 2010). 
     3. SUPRIYANTO, S.STP (Periode  01 Februari 2010 sampai 17 April 2015)
     4. SUGIANTO, S.IP (Periode 17 April 2015 s/d 28 Agustus 2015)  add meninggal Dunia
     5. BOB H.M. FONATABA, S.SOS Selaku Pelaksana Tugas (PLT)   
         Terhitung Mulai Tgl. 1 September - 1 Desember 2015
     6. EMILIA PALLORA, S.IP  ( Periode 1 Desember 2015 - Sekarang)
   
·        
D.            Kondisi Wilayah (Topografi)

Kondisi wilayah  Kelurahan Koya Timur merupakan  daerah dataran rendah, dengan  suhu rata-rata 22º C – 38º C dengan ketingian  tanah  rata-rata 20 mdpl (diatas permukaan air laut) dengan curah hujan 2.764 mm/th dan kelembaban udara antara 79 % - 81 %  yang didukung dengan adanya Bendungan Tami, yang siap mengairi  Lahan  selama 1 Tahun penuh, sehingga Kelurahan Koya Timur  berpotensi untuk  dikembangkan  di berbagai bidang antara lain :

1.      Bidang  Pertanian,
Di bidang ini yaitu cocok dikembangkan tanaman, Padi Sawah,  tanaman sayur mayur,  palawija, dan holtikultura dalam arti luas

2.      Bidang   Perikanan,
Di bidang ini, wilayah kami sampai sejauh ini sudah dikembangkan sebagai kawasan  perikanan darat (air Tawar) dengan budidaya ikan air tawar antara lain, Nila, Emas, Bawal & Lele sepanjang tahun dapat dilakukan 3 s/d 4 kali massa panen.

3.      Bidang Peternakan
Sejauh ini wilayah kami selain menghasilkan di bidang pertanian dan perikanan juga memiliki potensi sebagai  daerah peternakan dengan populasi ternak terbesar yaitu Sapi, Kambing, dan Babi

4.      Bidang Pariwisata
Di bidang ini daerah kami juga memiliki daya tarik tersendiri, karena selain sebagai daerah  jalur lintas batas Negara RI – PNG yang selalu dilewati masyarakat yang ingin melihat daerah perbatasan, juga terdapat kawasan pemancingan yang ramai dikunjungi pada saat hari libur sehingga memungkinkan  untuk dikembangakan sebagai daerah Pariwisata

E.       Kondisi Demografis

Kelurahan Koya Timur  mempunyai  luas wilayah  9.249.107 Ha, masyarakatnya bersifat heterogen yang terdiri dari barbagai jenis Suku bangsa  antara lain, (suku Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Timor, Ambon dan Papua)
Letak Kelurahan Koya Timur yang jauh dari Pusat Kota secara tidak langsung juga memicu tingginya tingkat Mobilitas Penduduk. Jumlah Penduduk di Kelurahan Koya Timur dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Jumlah Penduduk Kelurahan Koya Timur yaitu  jumlah Kepala keluarga 1137 KK dan jumlah penduduk 3695 dengan rincian laki-laki sebanyak 1897 Jiwa dan Perempuan sebanyak 1798 Jiwa (per 1 desember 2013) serta Laju Pertumbuhan Penduduk kurang lebih 2% per tahun yang tersebar di 12 wilayah RW dan 27 RT. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada table  berikut :

A.     ORBITASI

NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
1
2
3
1
Kelurahan
Bantaran Sungai
Rawan Banjir tetapi bukan bantaran sungai
Bebas banjir

B.     DATA PENDUDUK

1.      Jumlah Penduduk.
NO
INDIKATOR
JUMLAH
2010
2011
1
2
3
4
1
0 – 12 Bulan
42
Orang
56
Orang
2
>1 - < 5 Tahun
215
Orang
216
Orang
3
>5 - < 7 Tahun
182
Orang
192
Orang
4
>7 - < 15 Tahun
276
Orang
372
Orang
5
>15 - < 56 Tahun
1.957
Orang
2.044
Orang
6
< 56 Tahun
304
Orang
329
Orang

2.      Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur.

NO
INDIKATOR
JUMLAH
2010
2011
1
2
3
4
1
Jumlah Penduduk
2.976   Orang
3.209 Orang
2
Jumlah laki – laki
1.571   Orang
1.699 Orang
3
Jumlah Perempuan
1.405   Orang
1.510 Orang
4
Jumlah Kepala Keluarga
799   Orang
877 Orang


C.     DATA TINGKAT PERKEMBANGAN

1.      Pendidikan.

NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
JUMLAH
2010
2011
1
2
3
4
5
1
Tingkat Pendidikan Penduduk Usia 15 Tahun Keatas
  1.
Jumlah Penduduk buta huruf
38 Orang
14  Orang
  2.
Jumlah Penduduk tidak tamat SD / sederajat
460 Orang
465 Orang
  3.
Jumlah Penduduk tamat SD / sederajat
878 Orang
959 Orang
  4.
Jumlah Penduduk tamat SLTP / sederajat
690 Orang
799 Orang
  5.
Jumlah Penduduk tamat SLTA / sederajat
452 Orang
480 Orang
  6.
Jumlah Penduduk tamat D1
41 Orang
45 Orang
  7.
Jumlah Penduduk tamat D2
101 Orang
105 Orang
  8.
Jumlah Penduduk tamat D3
183 Orang
195 Orang
  9.
Jumlah Penduduk tamat S1
130 Orang
142 Orang
10.
Jumlah Penduduk tamat S2
3 Orang
5 Orang
11.
Jumlah Penduduk tamat S3
-  Orang
3 Orang


2
Wajib Belajar dan Angka putus Sekolah
1.
Jumlah Penduduk Usia 7 - 15 Tahun
276 Orang
372 Orang
2.
Jumlah Penduduk Usia 7 - 15 Tahun masih Sekolah
271 Orang
369Orang
3.
Jumlah Penduduk Usia 7 - 15 Tahun putus Sekolah
5 Orang
3 Orang


3
Prasarana Pendidikan
1.
SD / Sederajat
2   Buah
2   Buah
2.
SLTP / Sederajat
1   Buah
     1   Buah
3.
SLTA / Sederajat
1   Buah
2   Buah
4.
Jumlah Lembaga Pendidikan Agama
2   Buah
6   Buah
5.
Lembaga Pendidikan lain
( kursus / sejenisnya )
1   Buah
4   Buah


2.      Kesehatan Masyarakat.

NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
JUMLAH
2010
2011
1
2
3
4
5
1
Kematian bayi
1.
Jumlah bayi yang lahir
42   Orang
56  Orang
2.
Jumlah bayi yang mati
   -   Orang
-  Orang


2
Gizi dan Kematian bayi
1.
Jumlah Balita
257   Orang
272  Orang
2.
Jumlah Balita bergizi buruk
4   Orang
   2  Orang
3.
Jumlah Balita bergizi baik
251  Orang
270  Orang
4.
Jumlah Kematian Balita
2   Orang
-   Orang


3
Cakupan Imunisasi
1.
Cakupan Imunisasi Polio 3
42   Orang
56   Orang
2.
Cakupan Imunisasi DPT – 1
42   Orang
56   Orang
3.
Cakupan Imunisasi BCG
42   Orang
56   Orang


4
Angka Harapan Hidup

Umur Meninggal

 41-50 Tahun
1 Orang
3 Orang

51- 60 Tahun
2 Orang
3 Orang

61 –70 Tahun
2 Orang
4 Orang

71 – 80 Tahun ke atas
1 Orang
 1 Orang


5
Cakupan Pemenuhan
Kebutuhan Air Bersih
1.
Total rumah tangga dapat akses air bersih
-   / RT
-   / RT

a.
Penggunaan air sumur pompa
525  / RT
788 / RT

b.
Penggunaan air sumur gali
799 /  RT
887/ RT

c.
Pengguna mata air
-  /  RT
- / RT

d.
Pengguna hidran umum
-  /  RT
- / RT

e.
Pengguna penampungan air hujan
 799   RT
887 /RT

f.
Pengguna embun
-  /  RT
-  /  RT

g.
Penguna pipaan
-  /  RT
-   / RT

h.
Lainnya
-  /  RT
-  /  RT
2.
Total rumah tangga dapat akses air bersih
-   / RT
-   / RT


6
Kepemilikan jamban
1.
Total rumah tangga punya jamban /  WC
799 / RT
872 / RT
2.
Total rumah tangga tidak punya jamban / WC
21  / RT
15 / RT
3.
Pengguna M. C. K
778 / RT
887 / RT

  
3.      Ekonomi Masyarakat.

NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
JUMLAH
2010
2011
1
2
3
4
5
1
Pengangguran
1.
Jumlah Penduduk
usia 15 Tahun - 56 Tahun yang bekerja
1.957 Org
2.044 Org
2.
Jumlah Penduduk
usia 15 Tahun - 56 Tahun yang tidak bekerja
132 Org
103 Org
3.
Jumlah Penduduk
usia 15 Tahun - 56 Tahun yang menjadi Ibu Rumah Tangga ( IRT )
389 Org
443 Org
4.
Jumlah Penduduk
usia 15 Tahun - 56 Tahun yang cacat sehinga tidak bekerja
3 Org
3 Org

2
Pendapatan
Sumber Pendapatan/0rang
2010
2011
  1.
Pertanian
Rp.32.000.000
Rp. 45.000.000
  2.
Kehutanan
Rp.40.000.000
Rp. 48.000.000
  3.
Perkebunan
Rp.22.000.000
Rp. 24.500.000
  4.
Peternakan
Rp.42.500.000
Rp. 51.000.000
  5.
Perikanan
Rp.33.000.000
Rp. 46.000.000
  6.
Perdagangan
Rp.48.000.000
Rp. 57.500.000
  7.
J a s a
Rp.36.000.000
Rp. 42.000.000
  8.
Penginapan / Hotel / sejenisnya
Rp.0
Rp. 35.000.000
  9.
Pariwisata
Rp.67.500.000
Rp. 75.000.000
10.
Industri Rumah Tangga
Rp.10.000.000
Rp. 17.000.000

1
2

3
4
5
3
Kelembagaan Ekonomi
1.
Pasar
 1 Buah
1 Buah
2.
Lembaga koperasi / sejenisnya
1 Buah
1 Buah
3.
Badan Usaha milik Kelurahan
-
-
4.
Toko / kios
241 Buah
245 Buah
5.
Warung makan
3 Buah
7 Buah
6.
Angkutan Umum
47 Buah
62 Buah
7.
Pangkalan ojek / sejenisnya
1 Buah
1 Buah

4.      Keamanan dan Ketertiban.

NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
JUMLAH
2010
2011
1
2
3
4
5
1
Konflik Sara
1.
Konflik sara antar Kelompok                            
-    Kasus
-    Kasus
2.
Konflik sara antar Etnis
-    Kasus
-    Kasus
3.
Konflik sara antar Agama
-    Kasus
-    Kasus

    2
Perkelahian
1.
Kasus perkelahian-
5   Kasus
1   Kasus
2.
Kasus perkelahian yang menimbulkan korban jiwa
-   Kasus
-   Kasus
3.
Kasus perkelahian yang menimbulkan luka parah
-   Kasus
-   Kasus

   3
Pencurian dan Perampokan
1.
Kasus pencurian / perampokan
8    Kasus
5   Kasus
2.
Kasus pencurian / perampokan dengan kekerasan
-   Kasus
-   Kasus
3.
Kasus pencurian / perampokan pelaku antar Kampung / Kelurahan
-    Kasus
-   Kasus
4
Perjudian

Kasus perjudian
15   Kasus
4   Kasus
1
2

3
4
5
5.
Kasus Narkoba
1.
Jumlah kasus Narkoba yang pelakunya penduduk setempat
-    Kasus
-    Kasus
2.
Jumlah penduduk yang menjadi korban Narkoba
-    Kasus
-   Kasus

6.
Prostitusi

Kasus prostitusi
-   Kasus
-   Kasus

7.
Pembunuhan
1.
Jumlah kasus pembunuhan
-   Kasus
-    Kasus
2.
Jumlah kasus pembunuhan dengan korban penduduk setempat
-   Kasus
-   Kasus
3.
Jumlah kasus pembunuhan dengan pelaku penduduk Kampung / Kelurahan lain
-   Kasus
-   Kasus

8.
Kejahatan Sosial
1.
Jumlah kasus perkosaan
-   Kasus
-    Kasus
2.
Jumlah kasus perkosaan pada anak
-    Kasus
-    Kasus
3.
Jumlah kasus kehamilan diluar nikah
-    Kasus
-    Kasus

9.
Kasus kekerasan dalam rumah tangga
1.
Kekerasan terhadap isteri
5    Kasus
1    Kasus
2.
Kekerasan terhadap suami
-    Kasus
-     Kasus
3.
Kekerasan terhadap anak
-    Kasus
-     Kasus
4.
Kekerasan terhadap anggota keluarga lain
-    Kasus
-     Kasus

10.
Penculikan

Jumlah kasus Penculikan
-    Kasus
-     Kasus






11.
Partisipasi masyarakat dalam  keamanan swakarsa
1.
Jumlah pos Siskamling
15   Unit
16 Unit
2.
Jumlah Anggota Hansip
2  Unit
3   Unit
3.
Jumlah kelompok ronda
15   Unit
16   Unit










5.      Partisipasi Masyarakat.

NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
JUMLAH
2009
2011
1
2
3
4
5
   1
Pemilihan Umum
1.
Pemilihan Legislatif


a.
Jumlah penduduk yang memiliki Hak pilih
2.242   Orang
-   Orang

b.
Jumlah penduduk yang menggunakan Hak pilih
1.576   Orang
-   Orang
2.
Pemilihan Presiden / Wakil Presiden


a.
Jumlah penduduk yang memiliki Hak pilih
2.242   Orang
-   Orang

b.
Jumlah penduduk yang menggunakan Hak pilih
1.576   Orang
-   Orang

    2.
Pemilihan Kepala Daerah
1.
Gubernur / Wakil Gubernur Provinsi Papua


a.
Jumlah penduduk yang memiliki Hak pilih
-  Orang
2.566  Orang

b.
Jumlah penduduk yang menggunakan Hak pilih
-  Orang
-   Orang
2.
Walikota dan Wakil Walikota Jayapura


a.
Jumlah penduduk yang memiliki Hak pilih
-  Orang
2.438  Orang

b.
Jumlah penduduk yang menggunakan Hak pilih
-  Orang
1.801  Orang
3.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
1.
Jumlah penduduk yang ikut dalam Musrenbang 
42  Orang
55  Orang
2.
Jumlah peserta laki – laki
33  Orang
34  Orang
3.
Jumlah peserta perempuan
9  Orang
21  Orang
   4
Kegotong - royongan penduduk
 1.
Jumlah kegiatan gotong - royong dalam membangun rumah
10   Kali
16    Kali
 2.
Jumlah kegiatan gotong - royong dalam mengolah tanah
21   Kali
33    Kali
 3.
Jumlah kegiatan gotong - royong dalam menjaga kebersihan Kelurahan
8   Kali
15    Kali
 4.
Jumlah kegiatan gotong - royong dalam membangun salurah irigasi / drainase / sejenisnya
12   Kali
18    Kali
 5.
Jumlah kegiatan gotong - royong dalam membangun jalan
4   Kali
10    Kali
 6.
Jumlah kegiatan gotong - royong dalam penanggulangan bencana
2   Kali
4    Kali
 7.
Kegiatan gotong - royong lainnya
8   Kali
15    Kali
 8.
Kegiatan bulan bakti gotong - royong
ada
Ada

 6. Pemerintahan.
NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
KETERANGAN
2010
2011
1
2
3
4
5
   1
Pemerintahan Kelurahan Koya Timur
1.
Sarana dan Prasarana

a.
Gedung Kantor
Baik
Baik
b.
Gedung Pertemuan
Ada
Ada
c.
Perangkat Kelurahan
Lengkap
Lengkap
d.
Mesin ketik / Komputer
Ada
Ada
e.
Kendaraan Dinas Lurah
Ada
Ada
f.
Struktur Organisasi
Ada
Ada
2.
Keuangan

a.
BOP 
Rp.  28.000.000
Rp.   28.000.000
b.
DP2K
Rp.  60.000.000
Rp.   60.000.000
c.
d.
PNPM Mandiri Perkotaan
PNPM Mandiri RESPEK
Rp.130.000.000
Rp.100.000.000
Rp. 130.000.000
Rp. 117.000.000



e.
Dana Bantuan / Hibah ainnya
Rp.0
Rp.0


3.
Akuntabilitas :


a.
Kotak pengaduan masyarakat
Ada
Ada
b.
Laporan kinerja tahunan
Ada
Ada
c.
Laporan akhir masa jabatan
-
-
d.
Papan informasi pelayanan
Ada
Ada
e.
Loket pelayanan
Ada
Ada
4
Administrasi :


a.
Buku registrasi pelayanan
Ada
Ada
b.
Buku profil Kelurahan
Ada
Ada
c.
Administrasi Keuangan
Ada
Ada
d.
Kartu uraian tugas
Ada
Ada
e.
Administrasi Penduduk
Ada
Ada
f.
Administrasi Pembangunan
Ada
Ada
g.
Buku data Lembaga Kemasyarakatan
Ada
Ada
h.
Buku registrasi umum
Ada
Ada
i.
Peta wilayah
Ada
Ada

7. Lembaga Kemasyarakatan
NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
KETERANGAN
2010
2011
1
2
3
4
5
1
Organisasi Perempuan
Keberadaan
Ada
Ada
Aktifitas
Ada
Ada

2
Organisasi Pemuda
Keberadaan
Ada
Ada
Aktifitas
Ada
Ada

3
Organisasi Profesi
Keberadaan
Ada
Ada
Aktifitas
Ada
Ada

   4
Organisasi Bapak
Keberadaan
Ada
Ada
Aktifitas
Ada
Ada

   5
Organisasi  BP2K
Keberadaan
Ada
Ada
Aktifitas
Ada
Ada

   6
Kelompok gotong royong
Keberadaan
Ada
Ada
Aktifitas
Ada
Ada

   7
Karang Taruna
Keberadaan
Ada
Ada
Aktifitas
Ada
Ada

    8
Lembaga Adat
Keberadaan
 Ada
 Ada
Aktifitas
 Ada
 Ada

8. Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga
NO
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
KETERANGAN
2010
2011
1
2
3
4
5
    1
Realisasi 10 Program Pokok PKK
 1.
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
   2  Kegiatan
4  Kegiatan
 2.
Gotong royong
2  Kegiatan
4  Kegiatan
 3.
Pangan
3  Kegiatan
6  Kegiatan
 4.
Sandang
1  Kegiatan
2  Kegiatan
 5.
Perumahan dan tata laksana rumah tangga
1  Kegiatan
2  Kegiatan
 6.
Pendidikan dan Ketrampilan
1  Kegiatan
3  Kegiatan
 7.
Kesehatan
12  Kegiatan
16  Kegiatan
 8.
Pengembangan kehidupan Koperasi
-   Kegiatan
2  Kegiatan
 9.
Pelestarian lingkungan hidup
2  Kegiatan
4  Kegiatan
10.
Perencanaan sehat
1  Kegiatan
2  Kegiatan






   2
Organisasi PKK
Keterangan :


1.
Kelompok kerja
Ada
Ada
2.
Kelompok Desa wisma
Ada
Ada